1. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dari bekas Daerah Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, dan Timor yang ada sebelum berlakunya Undang-undang ini, dinyatakan bubar.
2. Badan Perwakilan Swapraja-swapraja yang dibentuk menjadi daerah tingkat II beserta Badan Pemerintah Hariannya, untuk sementara waktu berjalan terus sebagai Pemerintah Daerah dari daerah yang bersangkutan dan dibubarkan pada waktu pelantikan dewan-dewan baru.
3. Apabila bagi daerah-daerah yang tidak mempunyai Badan Perwakilan Daerah, pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dapat dibentuk menurut Undang-undang No. 14 Tahun 1956.
4. Menjelang terbentuknya Pemerintah Daerah, segala tugas kewajiban daerah dijalankan oleh seorang petugas yang diangkat atau ditunjuk oleh Pemerintah Pusat.
5. Dalam waktu selambat-lambatnya 2 (dua) tahun terhitung mulai dari berlakunya Undang-undang ini, pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut Undang-undang No. 19 Tahun 1956 harus sudah selesai.
6. Penyelesaian tentang soal-soal pemindahan, kedudukan dan penempatan pegawai-pegawai daerah dari bekas Daerah-daerah Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores dan Timor diatur oleh Menteri Dalam Negeri.
7. Pegawai-pegawai Daerah Swapraja Buleleng, Jembrana, Badung, Tabanan, Gianyar, Klungkung, Bangli, Karangasem, Bima, Dompu, Sumbawa, Manggarai, Sikka dan Belu yang masih aktif bekerja pada Pemerintah Daerah Swapraja tersebut menjadi pegawai daerah dari daerah yang bersangkutan.
8. Penyelesaian tentang penyerahan barang-barang milik bekas Daerah-daerah Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores dan Timor diatur oleh Menteri Dalam Negeri.
9. Barang-barang milik dari Daerah-daerah Swapraja yang dibentuk menjadi daerah tingkat II menjadi milik dari daerah yang bersangkutan.
10. Segala hutang-piutang dari bekas Daerah-daerah Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores dan Timor diselesaikan oleh Menteri Dalam Negeri atau petugas yang ditunjuk olehnya.
11. Ketentuan-ketentuan dalam peraturan-peraturan yang masih berlaku terus berlaku sebagai ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah yang bersangkutan dan dapat diubah, ditambah atau dicabut oleh Pemerintah Daerah tersebut.