For the best experience, openVeritaskon desktop.

Free Trial active — Full AIYU access for 7 days, no credit card required.

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 8 Tahun 2014

Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 8 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Penyediaan Dan Pendistribusian Bahan Bakar Gas Untuk Transportasi Jalan

Also known as: Permen ESDM 8/2014 · Permen ESDM No. 8 Tahun 2014 · Permen ESDM Nomor 8 Tahun 2014

Status:
Inactive
Effective Date:1 April 2014Publication Date:27 Maret 2014
Pertambangan & Sumber EnergiTransportasi Darat, Laut & Udara

Information

TypePeraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
ThemePelaksanaan Penyediaan Dan Pendistribusian Bahan Bakar Gas Untuk Transportasi Jalan
LocationKementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Effective Date01 April 2014
Publication Date27 Maret 2014
Place of EnactmentJakarta

Status Peraturan

Peraturan ini TIDAK BERLAKU (INACTIVE / NOT IN FORCE). Analisis berikut disajikan sebagai paparan historis terhadap isi dan efek hukum Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 08 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Penyediaan dan Pendistribusian Bahan Bakar Gas untuk Transportasi Jalan.

Kapan dicabut atau tidak berlaku lagi
  • Tidak tercantum dalam teks yang diberikan kapan tepatnya atau dengan instrumen hukum apa peraturan ini dicabut atau dinyatakan tidak berlaku. Dokumen yang Anda lampirkan adalah teks aslinya yang diundangkan pada 1 April 2014.

  • Keterangan status "TIDAK BERLAKU" dalam permintaan ini menunjukkan bahwa peraturan tersebut pada saat ini sudah tidak berkuat hukum. Namun, untuk menentukan tanggal dan instrumen pencabutan/penonaktifan yang sah (mis. Peraturan Menteri pengganti, pencabutan resmi, atau penghapusan melalui peraturan yang lebih tinggi), perlu verifikasi pada sumber resmi: Berita Negara Republik Indonesia, Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Kementerian ESDM, atau repository peraturan nasional.

Peraturan apa yang menggantikan (jika ada)
  • Belum ada nama peraturan pengganti yang dapat dipastikan berdasarkan dokumen ini. Jika peraturan ini tidak berlaku karena digantikan, pengganti tersebut biasanya berupa:

    • Peraturan Menteri ESDM yang lebih baru mengenai penyediaan dan pendistribusian bahan bakar gas untuk transportasi jalan atau pengaturan hilir gas bumi;

    • Peraturan Pemerintah atau Peraturan Presiden yang mengatur lebih lanjut skema penugasan, alokasi gas, atau harga untuk Bahan Bakar Gas transportasi;

  • Rekomendasi verifikasi: Carilah peraturan pengganti atau pencabutan resmi pada Berita Negara, Lembaran Negara, situs resmi Kementerian ESDM, atau portal JDIH untuk menetapkan peraturan pengganti yang sah.

Riwayat perubahan sebelum dicabut
  • Teks yang dilampirkan tidak memuat amandemen atau perubahan terhadap Permen ini. Oleh karena itu, berdasarkan dokumen ini, tidak ada riwayat perubahan yang tercantum sebelum peraturan menjadi inaktif.

  • Catatan praktik: Jika tercatat perubahan/amandemen sebelumnya, biasanya akan diindikasikan melalui penjelasan perubahan di Berita Negara atau melalui peraturan pengganti yang jelas menyatakan pencabutan atau perubahan. Untuk riwayat resmi, lakukan pengecekan silang pada arsip Berita Negara dan indeks peraturan di JDIH Kementerian ESDM.

Kesimpulan ringkas: Peraturan ini diperlakukan di sini sebagai materi historis yang TIDAK BERLAKU. Informasi formal mengenai tanggal dan instrumen pencabutan atau peraturan pengganti harus diverifikasi pada sumber resmi pemerintah.

Isi Kebijakan Historis
Tujuan dan Latar Belakang Peraturan Dahulu
  • Tujuan utama: mengimplementasikan ketentuan Pasal 6 dan Pasal 16 Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2012 mengenai penyediaan, pendistribusian, dan penetapan harga bahan bakar gas untuk transportasi jalan, melalui pengaturan teknis dan administratif pelaksanaan penugasan penyediaan dan pendistribusian CNG.

  • Latar belakang: kebutuhan untuk menyediakan dasar hukum pelaksanaan penugasan Badan Usaha, mekanisme alokasi gas bumi, jaminan pasokan, penetapan harga, serta pengaturan teknis terkait SPBG dan keselamatan di sektor hilir minyak dan gas bumi.

Kewajiban dan Hak yang Dahulu Ditetapkan
  • Kewajiban Menteri / Direktorat Jenderal: menugaskan Badan Usaha, menetapkan alokasi dan harga gas, melakukan evaluasi permohonan dan pengawasan (Pasal 2, Pasal 4, Pasal 9).

  • Kewajiban Badan Usaha yang mendapat penugasan:

    • Memiliki Izin Usaha Niaga Bahan Bakar Gas;
    • Memiliki dan/atau menguasai sarana dan fasilitas penyediaan dan pendistribusian;
    • Beroperasi atau telah melakukan kegiatan di wilayah tertentu;
    • Memiliki jaringan distribusi sampai konsumen tertentu;
    • Memiliki kemampuan pembiayaan dan kemampuan teknis operasional SPBG;
    • Menyampaikan laporan triwulanan atau sewaktu-waktu jika diperlukan (Pasal 3, Pasal 8).
  • Hak Badan Usaha: menerima alokasi gas bumi, hak atas volume CNG sesuai penugasan, hak operasional dalam wilayah penugasan, serta kemungkinan pembiayaan negara jika penugasan diberikan kepada BUMN (Pasal 2 ayat (5)).

  • Hak dan kewajiban lain: penugasan memuat hak-kewajiban, wilayah penugasan, volume, klausula force majeure, dan sanksi (Pasal 6).

  • Mengapa Peraturan Ini Dicabut atau Tidak Berlaku Lagi
    • Penyebab umum yang mungkin: perubahan kebijakan energi nasional, adanya peraturan pengganti yang lebih komprehensif, harmonisasi peraturan hilir minyak dan gas bumi, atau perampingan regulasi untuk menyesuaikan kebijakan pasar dan teknologi baru.

    • Catatan khusus: dari dokumen yang tersedia tidak tercantum alasan pencabutan. Untuk mengetahui alasan resmi diperlukan acuan pada naskah pencabutan atau pertimbangan kebijakan yang menyertai peraturan pengganti.

    Dampak Pencabutan
    • Hukum: ketentuan normatif yang mengatur penugasan, persyaratan Badan Usaha, dan mekanisme pelaporan yang tercantum dalam Permen ini tidak lagi menjadi dasar hukum aktif. Pengaturan selanjutnya bergantung pada peraturan pengganti atau aturan umum yang berlaku.

    • Operasional: Badan Usaha yang sebelumnya mendapat penugasan dapat mengalami ketidakpastian hukum sampai mekanisme transisi atau pengakuan penugasan tersebut diatur oleh pengganti.

    • Ekonomi dan pasar: kemungkinan penyesuaian alokasi gas, skema harga, serta peran BUMN/Swasta dalam penyediaan CNG dapat berubah sesuai kebijakan baru; investor dan operator perlu menyesuaikan kontrak dan rencana investasi.

    Penutup: Analisis ini menggambarkan isi kebijakan secara historis. Untuk implikasi konkret pasca-pencabutan—mis. apakah alokasi gas tetap berlaku, bagaimana harga ditetapkan sekarang—perlu merujuk pada peraturan pengganti atau instrumen hukum pelaksana terbaru.

Ketentuan Peralihan (Analisis Historis / Kemungkinan Praktik)
Ketentuan peralihan saat dicabut
  • Dalam praktik umum peraturan administratif: pencabutan biasanya disertai ketentuan peralihan yang mengatur status penugasan, hak dan kewajiban yang telah timbul, serta penyelesaian kewajiban yang belum diselesaikan sampai batas waktu tertentu.

  • Dalam teks Permen 08/2014: tidak terdapat ketentuan peralihan eksplisit pada pasal-pasal yang dilampirkan. Oleh karena itu, ketentuan peralihan jika ada kemungkinan diatur oleh peraturan pengganti atau surat keputusan pencabutan.

Bagaimana transisi ke peraturan pengganti

    Skema transisi yang biasanya ditempuh:

    • Pengakuan dan pemeliharaan penugasan yang sedang berjalan sampai berakhirnya masa penugasan atau sampai penugasan dialihkan menurut ketentuan pengganti;
    • Penetapan jangka waktu peralihan untuk pengaturan harga, alokasi, dan kewajiban pelaporan agar tidak terjadi kekosongan hukum mendadak;
    • Penetapan mekanisme administratif untuk penyesuaian kontrak dan perizinan kepada ketentuan baru.
  • Rekomendasi tata langkah: Badan Usaha dan pemangku kepentingan harus melakukan audit kontrak dan konsultasi hukum untuk memastikan kepatuhan pada instrumen pengganti serta mengajukan permohonan pengakuan atau penyesuaian jika diminta oleh regulator baru.

  • Hak dan kewajiban yang masih berlanjut
    • Hak-kewajiban kontraktual: hak dan kewajiban yang timbul dari kontrak komersial (mis. pasokan gas, perjanjian distribusi) umumnya tetap berlaku sampai memenuhi ketentuan pembatalan/penyesuaian sesuai hukum kontrak, kecuali ada ketentuan transisi yang mengubahnya.

    • Penugasan administratif: apabila peraturan pengganti tidak meniadakan penugasan secara eksplisit, penugasan yang sah biasanya dibatasi sampai masa penugasan habis atau sampai ada keputusan pengalihan oleh regulator.

    Penyelesaian perkara yang belum selesai
    • Kasus administratif atau sengketa: perkara yang sedang berjalan pada saat pencabutan umumnya diselesaikan menurut aturan transisi pada peraturan pengganti atau tetap diselesaikan berdasarkan ketentuan hukum acara yang relevan (mis. tata usaha negara, pengadilan niaga, arbitrase), tergantung sifat dan dasar tuntutan.

    • Rekomendasi praktis: pihak-pihak yang terlibat dalam sengketa harus menyusun alegasi mereka mengacu pada ketentuan yang berlaku pada saat perbuatan terjadi, serta memperhatikan apakah peraturan pengganti mengatur penerapan hukum baru terhadap fakta lampau.

    Catatan akhir: Karena teks asli Permen 08/2014 tidak memuat ketentuan peralihan eksplisit, implementasi transisi sangat bergantung pada instrumen pencabutan atau peraturan pengganti. Verifikasi dokumen pengganti diperlukan untuk mengetahui mekanisme peralihan yang tepat.

Sanksi (Kondisi Historis)
Sanksi yang Dahulu Berlaku
  • Rujukan Pasal: Pasal 6 ayat (2) huruf (e) menyatakan bahwa penugasan memuat "sanksi", namun teks terlampir tidak merinci jenis atau besaran sanksi secara spesifik.

  • Bentuk sanksi yang lazim pada pengaturan serupa:

    • Sanksi administratif, mis. teguran, pembatasan kegiatan, pencabutan penugasan atau izin;
    • Sanksi finansial, bila diatur oleh peraturan pelaksana atau perjanjian (denda, kompensasi);
    • Sanksi terkait keselamatan atau mutu, mis. kewajiban perbaikan, penghentian operasional sementara apabila melanggar standar keselamatan;
    • Sanksi pidana, apabila terdapat pelanggaran yang juga melanggar ketentuan pidana dalam Undang-Undang Migas atau peraturan lain yang relevan.
    Status sanksi setelah peraturan dicabut
    • Sanksi administratif yang hanya diatur dalam Permen 08/2014 tidak lagi menjadi dasar hukum sah untuk penjatuhan sanksi setelah peraturan dicabut, kecuali sanksi tersebut didukung oleh ketentuan lain (mis. klausula kontraktual atau peraturan yang lebih tinggi) atau sudah dijatuhkan sebelum pencabutan dan belum dibatalkan.

    • Sanksi yang bersumber dari ketentuan pidana atau peraturan lain yang masih berlaku tetap dapat diberlakukan meskipun Permen 08/2014 tidak berlaku lagi.

    Penyelesaian sanksi yang masih berjalan
    • Kasus di mana sanksi telah dijatuhkan sebelum pencabutan: umumnya tetap berlanjut dan harus diselesaikan sesuai prosedur hukum yang relevan (mis. banding administrasi, penyelesaian perdata, atau proses pidana), kecuali terdapat ketentuan transisi yang menyatakan sebaliknya.

    • Jika sanksi belum dijatuhkan tetapi dasar hukumnya dicabut: penjatuhan sanksi baru berdasarkan ketentuan yang telah dicabut biasanya tidak dapat dilaksanakan; regulator harus menggunakan dasar hukum pengganti atau instrumen lain untuk menegakkan kepatuhan.

    • Rekomendasi: Perusahaan/Badan Usaha yang terkena proses sanksi perlu melakukan verifikasi dasar hukum yang dipakai oleh regulator dan berkonsultasi dengan penasihat hukum untuk menentukan strategi administratif atau litigasi.

    Penutup: Semua uraian sanksi di atas bersifat historis dan normatif berdasarkan praktik umum pengaturan industri migas. Untuk status konkret dari sanksi tertentu (jenis, besaran, dan apakah masih dapat ditegakkan), diperlukan penelusuran dokumen pencabutan, putusan administratif, atau arsip penegakan dari Kementerian ESDM.