Untuk pengalaman terbaik, bukaVeritaskdi desktop Anda.

Free Trial aktif — Akses penuh AIYU selama 7 hari, tanpa kartu kredit.

Surat Edaran Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 2 Tahun 2026

Surat Edaran Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 2 Tahun 2026 tentang Ketentuan Produksi, Importasi, Registrasi, dan Peredaran Bahan Tambahan Pangan Dinitrogen Monoksida (N₂O)

Juga dikenal sebagai: SE Kepala BPOM 2/2026 · SE Kepala BPOM No. 2 Tahun 2026 · SE Kepala BPOM Nomor 2 Tahun 2026

Status:
Berlaku
Tanggal Berlaku:27 Februari 2026Tanggal Penetapan:27 Februari 2026
Kesehatan & FarmasiPerdagangan Dalam NegeriPerdagangan Internasional & Ekspor-Impor

Informasi

TipeSurat Edaran Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Tanggal Berlaku27 Februari 2026
Tanggal Penetapan27 Februari 2026

(-)

Surat Edaran ini diterbitkan untuk melindungi masyarakat dari penyalahgunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) Dinitrogen Monoksida (N2O) yang dapat menimbulkan dampak kesehatan serius bahkan kematian. Tujuannya adalah memberikan penjelasan mengenai ketentuan produksi, importasi, registrasi, dan peredaran BTP Dinitrogen Monoksida (N2O) kepada pelaku usaha, serta menjadi acuan bagi petugas pengawas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Ketentuan substantif meliputi kewajiban setiap sediaan BTP Dinitrogen Monoksida (N2O) yang diproduksi atau diimpor untuk memiliki izin edar. Produk ini hanya diizinkan dalam kemasan primer dengan berat bersih maksimal 10 gram per unit, yang dapat dikemas secara individual atau dalam kemasan sekunder. Label produk wajib mencantumkan informasi rinci seperti nama produk, berat bersih, nama dan alamat produsen/importir, tanggal produksi, keterangan kedaluwarsa, serta klasifikasi BTP. Produsen, termasuk pengemas ulang, wajib memiliki Izin Penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (IP-CPPOB). Importir wajib memiliki sertifikat Sistem Manajemen Keamanan Pangan Olahan (SMKPO) di Sarana Peredaran. Importasi harus mematuhi peraturan yang berlaku, dan BTP Dinitrogen Monoksida (N2O) harus memenuhi spesifikasi Kodeks Makanan Indonesia. Pelaku usaha berkewajiban menginformasikan kepada konsumen bahwa BTP ini hanya untuk keperluan pengolahan pangan. Laporan produksi, importasi, dan peredaran harus disampaikan kepada Kepala BPOM setiap enam bulan.

(-)

(-)