Untuk pengalaman terbaik, bukaVeritaskdi desktop Anda.

Free Trial aktif — Akses penuh AIYU selama 7 hari, tanpa kartu kredit.

Peraturan Presiden (PERPRES) Nomor 9 Tahun 2006

Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 9 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2005 Tentang Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak Dalam Negeri

Juga dikenal sebagai: PERPRES 9/2006 · PERPRES No. 9 Tahun 2006 · PERPRES Nomor 9 Tahun 2006

Status:
Tidak Berlaku
Tanggal Berlaku:11 April 2006Tanggal Penetapan:11 April 2006
Pertambangan & Sumber Energi

Informasi

TipePeraturan Presiden (Perpres)
TemaPerubahan atas Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2005 Tentang Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak Dalam Negeri
LokasiPemerintah Pusat
Tanggal Berlaku11 April 2006
Tanggal Penetapan11 April 2006
Tempat PenetapanJakarta

Status Peraturan

Peraturan ini TIDAK BERLAKU (INACTIVE / NOT IN FORCE). Analisis berikut disajikan sebagai rekonstruksi historis terhadap isi dan posisi Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2006 yang merupakan perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2005.

Kapan dicabut atau tidak berlaku lagi
  • Tidak terdapat keterangan pencabutan dalam teks Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2006 itu sendiri; oleh karena itu tanggal efektif tidak berlakunya harus ditentukan berdasarkan peraturan pengganti atau pencabutan resmi yang diterbitkan kemudian (mis. Peraturan Presiden berikutnya, perubahan undang‑undang, atau keputusan pencabutan yang diundangkan).

  • Catatan penting: Untuk mengetahui tanggal pasti pencabutan/tidak berlakunya, perlu verifikasi pada sumber resmi seperti Lembaran Negara/Berita Negara Republik Indonesia, daftar Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) kementerian terkait, atau arsip Kementerian Sekretariat Negara.

Peraturan apa yang menggantikan (jika ada)
  • Umumnya peraturan semacam ini dapat digantikan atau diubah oleh:

    • Peraturan Presiden berikutnya yang mengatur Harga Jual Eceran (HJE) Bahan Bakar Minyak (BBM);

    • Peraturan pelaksana (mis. Peraturan Menteri) atau Peraturan Pemerintah yang menyusun mekanisme harga, subsidi, atau distribusi BBM;

    • Perubahan kebijakan subsidi BBM yang ditetapkan dalam undang‑undang APBN/Perppu atau peraturan sektoral (mis. Kementerian ESDM).

  • Keterangan: Saya tidak menemukan pada teks yang diberikan nama atau nomor peraturan pengganti yang secara eksplisit mencabut Perpres ini. Oleh karenanya, peraturan pengganti harus dikonfirmasi melalui publikasi resmi.

Riwayat perubahan sebelum dicabut
  • Asal muatan: Perpres Nomor 9 Tahun 2006 adalah perubahan atas Perpres Nomor 55 Tahun 2005 mengenai Harga Jual Eceran BBM Dalam Negeri.

  • Perubahan utama yang tercantum: Perpres 9/2006 mengubah beberapa ketentuan Pasal 2 serta Lampiran (I, II, III) Perpres 55/2005, khususnya penetapan harga eceran minyak tanah, bensin premium, dan minyak solar untuk kelompok rumah tangga, usaha kecil, perikanan, transportasi, dan pelayanan umum serta keringanan tertentu untuk kegiatan usaha perikanan.

  • Riwayat formal sebelum dinyatakan tidak berlaku: Perpres 9/2006 terbit pada 11 April 2006 dan mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Informasi tentang amandemen selanjutnya, atau penggantian oleh peraturan lain, harus dilacak melalui dokumen resmi yang mencatat perubahan peraturan presiden setelah 2006.

Isi Kebijakan Historis (ketika aktif)
Tujuan dan Latar Belakang Peraturan Dahulu
  • Tujuan utama: Memberikan penyesuaian terhadap Perpres Nomor 55 Tahun 2005 terkait Harga Jual Eceran BBM dalam rangka memberi keringanan bagi sektor perikanan akibat pengurangan subsidi BBM, serta menyesuaikan perlakuan BBM bagi TNI/POLRI sesuai penganggaran APBN 2006.

  • Latar belakang: Pengurangan subsidi BBM yang mempengaruhi kegiatan ekonomi tertentu (khususnya perikanan) dan kebutuhan penyesuaian tarif untuk kelompok rumah tangga dan usaha kecil agar kebijakan fiskal dan sektor tetap terlaksana.

Kewajiban dan Hak yang Dahulu Ditetapkan
  • Kewajiban Pemerintah: Menetapkan harga eceran BBM tertentu (mis. Rp 2.000 per liter untuk minyak tanah, Rp 4.500 untuk bensin premium bagi kategori tertentu, Rp 4.300 untuk solar bagi kategori tertentu) dan mengklasifikasikan kelompok penerima keringanan melalui lampiran.

  • Kewajiban Pelaku Usaha BBM: Menjual BBM pada titik serah sesuai harga yang ditetapkan, menerapkan perlakuan pajak sebagaimana diatur (mis. PPN dan PBBKB jika disebutkan).

  • Hak Pelaku Usaha/Pengguna: Klaim status kategori sesuai lampiran untuk mendapatkan harga tertentu; hak administratif untuk memperoleh kepastian harga selama peraturan berlaku.

Mengapa Peraturan Ini Dicabut atau Tidak Berlaku Lagi
  • Alasan umum pencabutan/ketidakberlakuan: Perubahan kebijakan nasional mengenai subsidi BBM, harmonisasi regulasi energi, penerbitan peraturan pengganti yang merevisi mekanisme harga BBM, atau reformasi kelembagaan pengaturan BBM.

  • Catatan untuk verifikasi: Karena dokumen yang disajikan tidak memuat pencabutan, penyebab pastinya harus ditelusuri melalui peraturan selanjutnya atau pernyataan resmi pemerintah yang mengubah mekanisme HJE BBM.

Dampak Pencabutan
  • Terhadap penerima manfaat: Kelompok seperti usaha perikanan dan usaha kecil dapat kehilangan harga preferensial yang diatur; berdampak pada biaya operasional dan keberlanjutan usaha.

  • Terhadap pelaku pemasaran BBM: Perubahan penetapan HJE memerlukan penyesuaian harga jual, administrasi penjualan, dan pelaporan pajak/compensation jika ada mekanisme kompensasi/subsidi baru.

  • Terhadap pengawasan dan penegakan: Peralihan ke aturan baru dapat memerlukan penyesuaian sanksi, mekanisme pengawasan, dan prosedur klaim bagi kategori‑kategori tertentu.

Ketentuan Peralihan Historis
Ketentuan Peralihan saat Dicabut
  • Prinsip umum: Pencabutan atau penggantian Perpres semacam ini biasanya disertai ketentuan peralihan dalam peraturan pengganti yang menyatakan bagaimana transaksi yang sedang berjalan diselesaikan, sejak tanggal efektif pencabutan hingga berlakunya ketentuan baru.

  • Dalam praktik: Peraturan pengganti bisa menetapkan jangka waktu transisi (mis. beberapa bulan) untuk penyesuaian harga, atau pemberian kompensasi sementara bagi kelompok rentan seperti nelayan/usahawan kecil.

Bagaimana Transisi ke Peraturan Pengganti
  • Tahapan implementasi: Sosialisasi kebijakan baru oleh kementerian terkait (mis. Kementerian ESDM), penyesuaian sistem penetapan harga di titik serah, serta koordinasi dengan pemerintah daerah bila ada implikasi pungutan daerah.

  • Peran institusi: Badan pengatur dan instansi teknis diberi tugas melaksanakan ketentuan transisi, memantau dampak, dan memberi pedoman teknis operasional.

Hak dan Kewajiban yang Masih Berlanjut
  • Kontrak dan kewajiban komersial: Perjanjian yang telah disepakati berdasarkan ketentuan saat peraturan masih berlaku umumnya tetap dihormati sampai ada ketentuan berbeda dari peraturan pengganti atau putusan pengadilan.

  • Kewajiban administrasi: Kewajiban pelaporan dan pajak yang timbul selama periode berlaku tetap harus dipenuhi sesuai ketentuan yang bersangkutan hingga disesuaikan oleh aturan baru atau keputusan fiskal.

Penyelesaian Perkara yang Belum Selesai
  • Prinsip penyelesaian: Sengketa administratif atau perkara yang timbul semasa berlakunya Perpres 9/2006 biasanya diselesaikan menurut aturan transisi pada peraturan pengganti atau melalui mekanisme hukum administratif/pengadilan jika diperlukan.

  • Rekomendasi praktik: Pihak yang memiliki perkara yang belum selesai perlu merujuk pada peraturan pengganti dan dokumentasi pencabutan resmi untuk menentukan prosedur penyelesaian (mis. apakah perkara mengikuti ketentuan lama sampai diputus atau beralih ke ketentuan baru).

Sanksi Historis
Sanksi yang Dahulu Berlaku
  • Teks Perpres 9/2006 yang disajikan tidak memuat ketentuan sanksi administratif atau pidana secara eksplisit. Namun, sanksi terkait pelanggaran ketentuan harga eceran BBM umumnya diatur dalam:

    • Peraturan Presiden induk (Perpres 55/2005) dan lampirannya apabila memuat ketentuan pelanggaran;

    • Peraturan Pemerintah atau Peraturan Menteri terkait penyediaan dan pendistribusian BBM;

    • Ketentuan pidana/administratif dalam Undang‑Undang Migas (UU Nomor 22 Tahun 2001 beserta perubahannya) dan peraturan pelaksana lain (mis. sanksi administratif, denda, pencabutan izin).

Status Sanksi Setelah Peraturan Dicabut
  • Sanksi yang telah dijatuhkan selama masa berlakunya Perpres tetap mempunyai konsekuensi hukum terlepas dari pencabutan, kecuali peraturan pengganti atau keputusan pengadilan menyatakan sebaliknya (mis. amnesti administratif atau pembatalan sanksi oleh peraturan penerus).

  • Untuk tindakan yang masih dalam proses: Penyelesaian akan mengikuti ketentuan peralihan dalam peraturan pengganti, atau tetap menggunakan dasar hukum lama sampai ada putusan yang menyatakan peralihan kewenangan penegakan.

Penyelesaian Sanksi yang Masih Berjalan
  • Prosedur umum: Laporan, pemeriksaan, dan penjatuhan sanksi yang sudah dimulai selanjutnya diselesaikan menurut ketentuan peralihan pada peraturan pengganti atau ketentuan hukum acara yang berlaku (administratif/pidana).

  • Saran praktis: Pihak yang terkena sanksi atau sedang dalam proses penegakan hukum harus meninjau peraturan pengganti, keputusan pengadilan terkait, serta berkonsultasi dengan penasihat hukum untuk menentukan langkah administratif atau upaya hukum yang tepat.

Penutup dan Rekomendasi Pemeriksaan Lebih Lanjut: Karena dokumen yang Anda sampaikan adalah salinan Perpres Nomor 9 Tahun 2006 tanpa penyebutan pencabutan, analisis di atas bersifat historis dan konseptual. Untuk kepastian mengenai tanggal tidak berlakunya, peraturan pengganti, dan status sanksi/perkara tertentu, dianjurkan melakukan verifikasi pada:

  • Berita Negara Republik Indonesia (Lembaran/BNRI) terkait perubahan atau pencabutan Perpres;

  • Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Pemerintah, Kementerian ESDM, dan Kementerian Sekretariat Negara;

  • Database peraturan nasional resmi atau konsultasi dengan kantor hukum/government affairs yang memiliki akses ke arsip peraturan resmi.

Catatan: Semua isi di atas disusun dengan penekanan bahwa Perpres Nomor 9 Tahun 2006 sekarang diperlakukan sebagai INACTIVE / NOT IN FORCE dan pembahasan merupakan rekonstruksi historis dan panduan umum mengenai implikasi hukum transisi.